Breaking News

Peranan Seorang Pemuda Dalam Pembangunan Bangsa

www.carfreeinbigd.comPeranan Seorang Pemuda Dalam Pembangunan Bangsa. Remaja adalah individu yang sedang mengalami perkembangan lahir batin, oleh karena itu pemuda merupakan sumber daya manusia untuk pembangunan sekarang dan masa yang akan datang. Sebagai calon generasi penerus, mereka akan menggantikan generasi sebelumnya.

Generasi muda generasi sekarang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya dalam hal pergaulan atau sosialisasi, cara berpikir dan pemecahan masalah. Orang muda dengan gagasan lama lebih rasional dan jauh ke depan. Dalam arti tertentu, mereka tidak ceroboh dalam pikiran atau tindakan mereka, tetapi mereka akan dengan cermat merumuskan dan menelaahnya kembali dengan mempertimbangkan dampak dari setiap aspek.

Pemuda adalah penerus perjuangan generasi sebelumnya untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Pemuda adalah harapan dari setiap kemajuan dalam suatu negara.Hanya pemuda yang dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap suatu negara dan menjadi tumpuan generasi sebelumnya, dengan ide atau konsep yang luas, wawasan yang luas, dan negara yang berdasarkan nilai dan norma. . Terapkan di masyarakat.

Dari segi sosialisasi atau sosialisasi, cara berpikir dan cara memecahkan masalah, generasi muda saat ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Orang muda dengan gagasan lama lebih rasional dan jauh ke depan. Dalam arti, mereka tidak ceroboh dalam berpikir atau bertindak, tetapi mereka akan dengan cermat merumuskan dan menelaahnya kembali dengan mempertimbangkan dampak dari setiap aspek. Pemuda jaman dahulu juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Misalnya sejarah mencatat kemajuan pemuda Indonesia dalam membebaskan negara. Bonhamo, Bontomo, Bontomo Soekarno, Sutan Syahrir dan lain-lain rela mengorbankan hartanya bahkan mempertaruhkan nyawa demi kebaikan bersama, yakni kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: 10 Cara Untuk Memulai Usaha Afiliasi Yang Bisa Bikin Sukses

Di saat yang sama, generasi muda saat ini masih terkesan cuek dengan permasalahan sosial di lingkungan sekitarnya. Kaum muda saat ini dipengaruhi oleh pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja bahkan kemajuan teknologi, yang semestinya memudahkan mereka untuk mendapatkan wawasan atau bertukar informasi dan menjadi korban kekerasan. Tidak jarang anak muda jaman sekarang menggunakan Internet untuk hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh anak muda (seperti membuka situs porno, dll).

Peran pemuda dalam sosialisasi saat ini telah sangat berkurang. Mereka memprioritaskan kesenangan mereka sendiri dan lebih sering bermain dengan tim mereka. Padahal, dulu biasanya kaum muda lah yang berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan kemasyarakatan, seperti kegiatan keagamaan, peringatan hari kemerdekaan, dan pengabdian masyarakat. Kalau saja anak muda jaman dulu seperti Ir. Sukarno, Punya Jada, Purnomo dan lain-lain masih hidup, dan mereka pasti akan sedih melihat anak muda saat ini yang lebih mementingkan kesenangan pribadi. Mereka berharap generasi yang terus berjuang tidak lagi memiliki jiwa nasionalisme.

Masa depan negara ada di tangan anak muda. Ekspresi ini memiliki semangat pembangunan dan perubahan yang konstruktif. Pemuda tidak selalu identik dengan kekerasan dan anarkisme, tetapi ide-ide revolusioner mereka adalah kekuatan utamanya. Karena saat merubah tatanan budaya bangsa yang lama, kita membutuhkan mentalitas, pola pikir bersih, berani dan semangat.

Sejak 1908, perkembangan pemikiran pemuda Indonesia tercatat dan berlanjut hingga saat ini. Mulai dari masa kebangkitan nasional tahun 1908, komitmen pemuda tahun 1928, pengumuman tahun 1945, operasi Tritura tahun 1966, dan awal tahun 1967-1998 (orde baru), periode ini terbagi dalam 6 (enam) periode.

Periode awal kebangkitan negara pada tahun 1908 menandai berdirinya organisasi Priyayi Jawa Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Dalam kurun waktu tersebut, pemuda Indonesia mulai mengadopsi gagasan Barat yang tumbuh subur saat itu. Ide-ide ini termasuk sosialisme, Marxisme, liberalisme, dll. Sistem ideologis dari kebanyakan organisasi olahraga yang mengadopsi ide-ide Barat dan model olahraga yang mereka adopsi dengan jelas menggambarkan pengaruh ide-ide tersebut terhadap pemikiran kaum muda pada saat itu. Di antara beberapa cabang olahraga yang tercatat dalam sejarah Indonesia, salah satu olahraga yang paling ideal adalah olahraga model radikal. Salah satu gerakan radikal adalah percobaan revolusi pertama di India dari tahun 1925 hingga 1926. Selain mengadopsi ide-ide Barat, generasi muda saat itu juga menggunakan esensi budaya Jawa, Islam, dan konsep-konsep daerah lainnya sebagai pedoman (ideologi).

Periode berikutnya, Sumpah Pemuda 1928, ditandai dengan Konferensi Pemuda Oktober 1928. Kejadian ini merupakan pengakuan atas tiga hal yaitu rumah tangga. Indonesia, satu negara; Indonesia dan satu bahasa; Indonesia. Dari kejadian tersebut dapat kami jelaskan bahwa pemikiran anak muda Indonesia saat ini mencerminkan keyakinan mereka bahwa mereka adalah orang Indonesia, dan semangat perjuangan mereka dilandasi oleh semangat solidaritas.

Dengan mengamati perkembangan pemikiran anak muda dari tahun 1908 hingga 1998, kita dapat merefleksikan dan merefleksikan semangat perubahan yang mereka buat. Semangat pembaruan yang dihasilkan oleh pemikiran mereka adalah hasil kerja keras dan disiplin. Sebagai penerus tongkat estafet perjuangan yang telah menjadi simbol kemajuan bangsa, kita harus meniru semangat dan idealisme mereka sehingga lahirlah Soekarno-Soekarno, Soe Hok Gie-Soe Hok Gie yang baru dan orang-orang baru. Pemikir dengan cara berpikir yang baru, inovatif dan segar.

Masyarakat masih membutuhkan generasi muda yang memiliki kematangan intelektual, kreativitas, percaya diri, inovatif, solidaritas sosial dan berjiwa nasionalis dalam pembangunan negara. Pemuda diharapkan mengemban tanggung jawab untuk memajukan persatuan dan kesatuan NKRI, serta mengamalkan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila, guna mewujudkan perdamaian, kesejahteraan umum, dan kerukunan antarbangsa. Latih pemuda Indonesia. Saya menyalakan gairah di dada saya. Bersatu untuk membangun negara kita tercinta. Misalnya isi sumpah pemuda “Satu Darah, Satu Negara, Satu Bahasa” yang disumpah pada 28 Oktober 1928. Semoga negara kita tetap bersatu, karena Bhineka Tunggal Ika mencerminkan slogan budaya negara. Biarlah generasi muda Indonesia berkarya, memajukan negara kita, dan menjadi Soekarno dan Moh Hatta berikutnya yang memiliki semangat juang tinggi dalam membangun negara.

Yang terpenting, nasib bangsa Indonesia, betapapun baiknya di masa depan, akan sangat bergantung pada generasi penerus, generasi muda. Oleh karena itu, saya mengedepankan tema tulisan ini yaitu apa peran pemuda dalam pembangunan bangsa Indonesia?

Pemahaman pemuda

  • Pengartian 1

Remaja ialah orang yang berkembang secara fisik dan emosional, oleh karena itu pemuda adalah SDM untuk pembangunan sekarang dan masa yang akan datang. Sebagai calon lanjutan, mereka pasti mengikuti calon sebelumnya. Baik universal, mengacu pada “orang muda” yang dibatasi usia hingga 25 tahun, dan mereka yang berusia antara 20 dikenal “remaja”. Tahun Pemuda Internasional yang diadakan pada 1980 an mengartikan populasi usia 15-24 adalah suatu anggota pemudaa.

  • Pengartian 2

Remaja ialah orang yang energik, bahkan orang yang bergejolak dan optimis pun tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosi yang stabil. Kaum muda sedang menghadapi periode perubahan sosial dan budaya. Padahal, menurut RUU Pemuda, pemuda adalah orang yang berusia antara 18 hingga 35 tahun. Dari segi usia, masa muda merupakan masa perkembangan fisik dan psikis. Oleh karena itu, aspirasi anak muda selalu berbeda dengan aspirasi masyarakat secara keseluruhan. Dalam arti positif, keinginan yang berbeda ini disebut semangat pembaharu. Dalam kosa kata bahasa Indonesia, pemuda disebut juga generasi muda dan pemuda. Secara umum istilah youth, youth atau youth memiliki pengertian yang beragam. Definisi remaja tersebut didasarkan oleh faktor umur dan yang lain nya sangat transparan. Pemuda / generasi muda / pemuda adalah mereka yang memiliki jiwa reformasi dan kemajuan.

Peran pemuda dalam masyarakat

Sejarah telah membuktikan bahwa pemuda merupakan salah satu pilar yang berperan penting dalam perjalanan hidup suatu negara dan suatu negara.Oleh karena itu, kemajuan dan kemunduran suatu negara sedikit banyak bergantung pada pemikiran dan kontribusi positif pemuda di dunia dan negara. Demikian pula dalam bidang kehidupan sosial, pemuda merupakan jati diri yang potensial dalam tatanan masyarakat, penerus cita-cita perjuangan bangsa, dan sumber daya manusia bagi pembangunan bangsa, karena pemuda dapat dipandang sebagai harapan bangsa, yang bisa diartikan sebagai siapa yang mengontrol pemuda, mengontrol masa depan.

Ada banyak alasan mengapa anak muda memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat, di antaranya:

  • Kemurnian idealismenya
  • Keberanian dan keterbukaannya dalam menyerap nilai dan ide baru
  • Dedikasi
  • Spontanitas dan dedikasinya
  • Inovasi dan kreativitas
  • Keinginan untuk segera mewujudkan ide-ide baru
  • Ketekunan janji dan keinginan untuk menunjukkan sikap dan kepribadian mandiri
  • Masih minimnya pengalaman yang dapat merefleksikan pandangan, sikap dan tindakan mereka terhadap realitas saat ini.

Alasan-alasan ini pada dasarnya melekat pada kaum muda, jika kesadaran mereka dikembangkan dan ditingkatkan, mereka secara alami dapat berperan dalam kepemimpinan dan kepemimpinan, menggerakkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat dan melayani kemajuan negara.

Menurut Ginandjar Kartasasmita, merintis dan memimpin bisa memiliki arti yang sama yaitu berada di depan orang lain dan ditiru oleh orang lain. Namun, bisa juga memiliki arti tersendiri.

Semangat kepeloporan secara jelas menunjukkan sikap berdiri di depan orang lain, merintis, merintis jalan, dan memulai hal-hal tertentu yang diikuti, dilanjutkan, dikembangkan dan dipikirkan orang lain. Dalam pekerjaan perintis, ada faktor risiko yang dihadapi. Kemampuan mengambil resiko ini penting dalam setiap perjuangan karena membutuhkan ketangguhan fisik dan mental, dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengambil resiko tersebut.

Pemimpin bisa di depan, di tengah, atau di belakang, seperti ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. Tidak semua orang bisa menjadi pemimpin. Pemimpin tidak dibatasi oleh usia, bahkan ketika mereka tumbuh dewasa, semakin berpengalaman mereka, semakin bijak pemimpinnya. Dalam hal ini, menurut Ginandjar, itu adalah pemimpin “lapangan”. Memimpin perkembangan berbagai aktivitas yang dilakukan di masyarakat. Karena karakteristik anak muda yang energik, kepemimpinan seperti ini sangat cocok untuk anak muda. Masyarakat yang berkembang membutuhkan kepemimpinan yang dinamis. Jika seiring bertambahnya usia, kepemimpinan akan menjadi lebih bijak karena bertambahnya pengalaman, namun hal ini akan diiringi dengan penurunan motivasi. Di tingkat pemimpin muda inilah vitalitas muncul.

Baca Juga: 20 Perusahaan Asuransi Terbesar di America

Seseorang dapat mengembangkan kreativitas, menghasilkan ide-ide baru, mendobrak hambatan, mencari sumber motivasi untuk memecahkan masalah, dan menerobos hambatan pemikiran tradisional bila diperlukan. Keberadaan generasi muda di Indonesia sebenarnya dapat menjadi aset berharga bagi negara untuk berkembang ke arah yang lebih baik di masa depan, dan disisi lain dapat berdiri sejajar dengan negara lain di segala bidang, sehingga generasi muda dapat berpartisipasi. sangat aktif. Pancasila mengatakan bahwa kemajuan negara telah secara aktif mendorong kemajuan dan membantu rencana pemerintah untuk bergerak menuju Indonesia.

Potensi generasi muda

Masa depan suatu negara ada ditangan generasi muda, karena mereka akan membentuk dan menggantikan pemimpin negara sebelumnya. Generasi muda merupakan generasi yang berharap untuk membangun negeri ini, namun di sisi lain banyak menghadapi masalah yang jika tidak ditanggapi dengan serius akan mengakibatkan hilangnya fungsi generasi penerus bangsa.

Anak muda memiliki potensi besar untuk membangun negeri ini, antara lain:

  • Motivasi dan kreativitas. Dengan sikap idealis dan daya kritis yang kuat, artinya generasi muda dapat membangkitkan kreativitas dan motivasi dalam rangka merubah, memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan yang ada.
  • Berani mengambil resiko. Dalam pengerjaan pembangunan pasti terdapat resiko, seperti konstruksi yang terlewat, terhalang bahkan gagal. Kaum muda dengan pengetahuan, keterampilan komputasi dan keterampilan dapat mengatasi masalah ini dengan baik karena mereka juga lebih berani mengambil risiko.
  • Optimis dan antusias. Optimisme dan semangat yang ada pada jiwa generasi muda akan menjadi motor penggerak produksi barang-barang jenjang yang lebih tinggi, sehingga membentuk mental yang kuat dan tidak mudah putus asa.
  • Sikap mandiri dan disiplin. Mereka mengenali batasan yang masuk akal dengan sikap independen, dan toleran serta disiplin.
  • Keragaman Unity dan Unity. Keragaman pemuda mencerminkan keragaman negara kita. Keberagaman ini memiliki semboyan yang sama yaitu semangat bersumpah pemuda dan Bhinneka Tunggal Ika, serta merupakan potensi energi dan kreativitas.
  • Patriotisme dan nasionalisme. Dengan sikap patriotisme dan nasionalisme, generasi muda dapat berperan serta dalam upaya bela dan bela negara.
  • Sikap ksatria. Sikap kesatria identik dengan keberanian, pengabdian kepada negara dan rasa tanggung jawab sosial yang tinggi. Dengan cara ini, generasi muda dapat menjadi pembela dan penegak hukum masyarakat dan nasional.
  • Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu dan teknologi saat ini berkembang sangat pesat.Dengan ilmu tersebut para generasi muda dapat mengaplikasikannya di lingkungan sekitar dan menjadi ahli Transformers dan Dinamika.

Faktor yang menimbulkan masalah bagi generasi muda

Masalah generasi muda biasanya memiliki dua karakteristik yang berlawanan. Yakni, keinginan untuk melawan (misalnya dalam bentuk radikalisme) dan ketidakpedulian (misalnya, penyesuaian buta terhadap standar moral generasi sebelumnya). Perlawanan mungkin disertai dengan ketakutan bahwa perbuatan salah akan menghancurkan masyarakat. Di saat yang sama, ketidakpedulian biasanya dibarengi dengan rasa kecewa di masyarakat. Generasi muda biasanya menghadapi masalah sosial dan biologis. Saat seseorang memasuki masa puber, tubuhnya sudah matang, namun untuk mendewasakan secara sosial masih dibutuhkan faktor lain. Dia perlu belajar banyak tentang nilai dan norma masyarakatnya. Dalam masyarakat sederhana, hal ini tidak menjadi masalah, karena anak dididik di antara kerabat. Perbedaan antara kematangan sosial dan kematangan biologis tidak jelas. Statusnya di masyarakat tergantung pada faktor-faktor seperti usia.

Berbeda dengan masyarakat yang sudah kompleks, terdapat pembagian kerja dan pembagian fungsi di bidang kehidupan. Selain tenaga fisik, masyarakat tidak hanya bertumpu pada keberadaan kemampuan fisik, tetapi juga kemampuan di bidang keilmuan, seperti kemampuan menciptakan ketidakseimbangan antara kematangan sosial dan kematangan biologis, khususnya dalam proses modernisasi. Dalam hal ini, seorang pemuda merasa bahwa dia sudah dewasa secara biologis, tetapi belum matang secara sosial. Memang, dalam masyarakat sederhana, pertumbuhan usia berarti tumbuhnya kearifan, yang merupakan tolak ukur pengalaman pribadi. Karena itu, posisi penting ditempati oleh para lansia. Dalam masyarakat yang sudah kompleks, kemajuan seseorang ditentukan oleh kemampuan daripada senioritas.

Dalam masyarakat transisi, generasi muda seolah terjepit di antara norma lama dan norma baru (kadang belum terbentuk). Nampaknya generasi tua tidak menyadari bahwa skala yang sekarang bukan lagi usia, melainkan kemampuan. Namun yang menjadi masalah adalah generasi muda setidaknya tidak memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.

Masa remaja dianggap sebagai masa yang berbahaya, karena pada masa tersebut seseorang meninggalkan tahapan kehidupan anak dan memasuki tahapan selanjutnya yaitu tahapan kedewasaan. Masa ini dianggap krisis karena ia tidak memiliki kendali atas pembentukan karakternya. Saat itu ia membutuhkan bimbingan, terutama di bawah bimbingan para majikannya.

Potensi generasi muda

Potensi yang akan dikembangkan di kalangan generasi muda adalah sebagai berikut:

  • Idealisme dan daya kritis

Secara sosiologis, generasi muda belum terbangun sesuai dengan sekuens yang ada, sehingga bisa melihat kekurangan-kekurangan dalam sekuens tersebut, dan secara alamiah mampu menemukan ide-ide baru. Perwujudan idealisme dan daya kritis perlu dilengkapi dengan landasan tanggung jawab yang seimbang.

  • Motivasi dan kreativitas

Adanya idealisme pada generasi muda memberikan potensi untuk mengembangkan vitalitas dan kreativitas, yaitu kemampuan dan kemauan untuk melakukan perubahan, memperbaharui dan memperbaiki kekurangan yang ada atau mengajukan ide-ide baru.

  • Berani mengambil resiko

Perubahan dan pembaruan, termasuk pengembangan, berisiko hilang, tertunda atau gagal. Namun, untuk membuat kemajuan, diperlukan risiko. Generasi muda dapat berpartisipasi dalam bisnis pengambilan risiko. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan, daya komputasi dan keterampilan generasi muda agar dapat memberikan kualitas yang berkualitas dan berani mengambil resiko.

Upaya penyelesaian masalah melalui sosialisasi

Sosialisasi merupakan suatu proses yang dapat membantu individu melalui pembelajaran dan adaptasi, bagaimana bertindak dan berpikir, sehingga mereka dapat berperan dan berperan baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Proses sosialisasi sebenarnya dimulai dari keluarga. Namun sosialisasi ini tidak hanya terjadi di lingkungan keluarga, tetapi juga di institusi lain. Cohen (1983) menunjukkan bahwa lembaga sosial yang paling penting adalah keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan media massa. Oleh karena itu, sosialisasi dapat dilakukan secara formal maupun informal. Secara formal proses sosialisasi lebih tertib, karena memberikan seperangkat pengetahuan secara tertib dan sistematis, serta dilengkapi dengan seperangkat norma yang tegas yang harus diikuti oleh setiap individu yang secara sadar dan sadar melaksanakannya. Pada saat yang sama, komunikasi informal terjadi secara tidak sengaja melalui interaksi informal.

Ada beberapa jenis media sosial mengenai perkembangan individu dari masa kanak-kanak hingga dewasa, yaitu:

  • Orang tua atau keluarga

Dalam kehidupan Barat, hubungan keluarga dan anak seakan-akan sudah diakhiri secepatnya dan ditanamkan agar anak cepat berdiri sendiri dari orang tuanya Fakta ini tidak ada dalam masyarakat Indonesia.

Perbedaan hubungan antara orang tua dan anak tersebut di atas berdampak besar pada proses sosialisasi anak. Selain itu, gaya atau suasana kehidupan keluarga juga memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap masa depan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suasana kekeluargaan yang berprasangka buruk akan menyebabkan terbentuknya prasangka buruk terhadap anak.

  • Teman bermain

Saat bermain dengan teman, anak-anak mulai mempelajari aturan yang tidak selalu sesuai dengan kebiasaan keluarga yang populer. Dalam hal ini, anak dituntut untuk bersikap toleran, menghargai harta benda orang lain, dan berperan. Ketika seorang anak tumbuh menjadi remaja, peran pendamping biasanya lebih berpengaruh daripada peran orang tua. Dalam masyarakat sering terjadi seseorang tidak dapat mengontrol anak-anaknya karena ikatan atau solidaritas yang sangat kuat dengan teman sebayanya, karena itu menjadi acuan perilakunya.

  • Sekolah

Sekolah pada dasarnya adalah lingkungan formal pertama bagi anak. Di sekolah, anak-anak diharuskan untuk mematuhi aturan untuk tindakan disipliner, dan untuk memeriksa kinerja mereka akan dihukum.

  • Media Massa

Kemajuan teknologi, khususnya perkembangan media massa, telah membuat dunia menjadi kecil. Berdasarkan fakta diatas maka media massa memegang peranan yang sangat penting dalam proses sosialisasi, atau setidaknya melalui media massa melalui perolehan ilmu oleh satu orang.

  • Masyarakat/Lingkungan

Masyarakat yang beragam membuat sosialisasi menjadi sulit. Ini karena dalam masyarakat yang beragam yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, aturan belum tentu memiliki norma yang saling kompatibel. Apa yang diperbolehkan dalam satu kelompok mungkin dilarang di kelompok lain.