Breaking News

10 Kesenian Yang Hanya Ada Di Jawa Barat

www.carfreeinbigd.com10 Kesenian Yang Hanya Ada Di Jawa Barat. Kesenian Jawa Barat terkenal di semua daerah. Orang Dan Dan tidak hanya terkenal dengan budayanya tetapi juga kekayaan seninya. Daerah ini memiliki keragaman seni dan budaya. Keunikan inilah yang menarik warga dari daerah lain. Yang unik adalah budaya masyarakat Sun Dan, seperti yang kita ketahui bersama, mereka sangat bersahabat dengan orang tua, lembut, tersenyum, ceria dan sangat dihormati.

Namun seiring perkembangan dan masuknya budaya asing, budaya Sun Dan berangsur-angsur pudar. Meski begitu, ternyata karya seni dari Jawa Barat masih tetap dilestarikan hingga saat ini. Nah, tahukah Anda jenis seni apa saja yang ada di daerah ibu kota Bandung ini? Jika belum, mari kita lihat.

  1. Kesenian Kuda Lumping

Kuda Lumping adalah seni tradisional Jawa yang menggambarkan sekelompok tentara sedang menunggang kuda. Kuda yang digunakan dalam tarian bukanlah kuda asli, melainkan kuda yang terbuat dari bambu yang dianyam, dibentuk dan dihias seperti kuda. Tarian ini sangat digemari masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Selain tarian Kuda Lumping, tarian ini sering juga disebut “Jaran Jalinan” karena bentuknya seperti kuda yang dihias dengan rambut tiruan yang terbuat dari tali plastik dan dihiasi dengan kepang. Selain menampilkan gerak tari, tarian ini juga memiliki unsur magis, karena setiap pertunjukan memiliki penari ganda, dan beberapa upacara tari dilakukan dalam tarian ini. Selain itu, terdapat beberapa titik berbahaya, seperti makan kaca, memotong sendiri, berjalan di atas sepihan kaca, dan titik berbahaya lainnya. Tarian ini merupakan pengembangan dari seni “Jatilan”. Meski masih ada beberapa elemen, seperti keledai dan pemandangan berbahaya, gerakan tarian dari seluruh kelompok kuda ini diutamakan, dan gerakan ini menggambarkan semangat heroik para ksatria dalam perang.

Baca Juga: Mengenal Lebih dalam SUMUT (Sumatra Utara)

Dalam pertunjukannya, seluruh kelompok penari biasanya dibagi menjadi 3 bagian. Pada bagian pertama biasanya terdapat beberapa penari wanita yang menari di atas kudanya dengan gerakan yang lembut dan dinamis. Kemudian pada bagian kedua biasanya dibawakan oleh beberapa penari pria. Pada bagian ini, gerakan penari mengekspresikan keberanian para prajurit yang menunggang kuda di medan pertempuran. Yang terakhir adalah peran yang dimainkan oleh beberapa pembalap. Saat memainkan cambuk, mereka menari mengikuti musik. Pada bagian ini beberapa penari dalam keadaan tanpa sadar melakukan beberapa pemandangan yang berbahaya, seperti makan gelas, memotong diri sendiri, berlari di belahan mirror dan pemandangan ngeri. Saat memajang pameran kuda ini, setiap kelompok atau daerah memiliki karyanya sendiri-sendiri saat memajangnya, namun masih belum ada keaslian dalam keseniannya.

Dalam pertunjukan kuda rombongan ini biasanya ditemani oleh beberapa kuli atau dukun untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebelum pertunjukan dimulai, dukun biasanya melakukan beberapa ritual yaitu sesajen dan pengajian agar tidak disakiti. Selain melakukan ritual, dukun juga ditugaskan untuk mengawal penari yang akan dibawa pergi saat menampilkan spot-spot pemandangan, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan mengembalikan penari dari keadaan.

Kostum yang digunakan di seluruh pertunjukan kawanan biasanya adalah pakaian berlengan panjang atau lengan pendek untuk tentara, tetapi beberapa memakai rompi atau bahkan tanpa pakaian. Di bagian bawah, celana pendek dikenakan di bawah lutut dan dihiasi kain dengan beberapa dekorasi warna-warni dan motif batik. Untuk kepala, biasanya digunakan mahkota atau blankon. Aksesoris yang digunakan adalah tali pergelangan tangan, gelang kaki, ikat pinggang, ikat pinggang dan pelindung dada.

Atribut yang digunakan dalam pertunjukan sanggar Kuda ini adalah anyaman kuda, namun setiap bagian penarinya berbeda-beda. media selendang lah yang digunakan pada saat show pertama. Karena yang diutamakan saat ini ialah sang biduan penarinya. Tetapi beberapa orang menggunakan atribut layak nya pisau. saat menari bagian ke 2 para laki laki  menggunakan atribut kayak piasu. Sebab part tersebut mengisahkan kavaleri saat bertempur. Pada bagian ketiga biasanya kita menggunakan atribut whip. Dalam festival ini, penari akan memainkan cambuk dengan musik yang sesuai dan menari di atas punggung kuda untuk menghasilkan suara yang unik. Dalam pertunjukan Kuda Lumping biasanya diiringi alat musik gamelan seperti kendang, bende, gong, kenong, demung, kecek, dll.

Dalam perkembangannya, Kuda Lumping tidak hanya dikenal di Jawa, tetapi juga terkenal di seluruh Indonesia. Tarian semacam ini biasanya digelar dalam berbagai kegiatan, seperti di berbagai daerah di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah, untuk menyambut tamu-tamu terhormat dan menggelar festival budaya. Dengan perkembangan zaman, seniman Kuda Lumping semakin menambah kreasi pada setiap pementasannya. Hal tersebut dilakukan untuk melestarikan dan membuatnya lebih menarik, namun tetap tidak melestarikan ciri khas seni.

  1. Wayang Golek

Wayang Golek adalah seni pertunjukan yang tumbuh dan berkembang di Jawa Barat. Wilayah sebarannya memanjang dari Cirebon di timur hingga Banten di barat, bahkan di wilayah Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat (Wayang Golek juga umum).

Pandangan lain tentang penyebaran Wei’an di Jawa Barat disebarkan oleh Wali Sanga pada masa pemerintahan Raden Patah Kerajaan Demak. Termasuk Sunan Gunung Jati (Sunan Gunung Jati) yang mengambil alih kekuasaan di Kesultanan Cirebon pada tahun 1568.

Ia menggunakan pertunjukan Wayang kulit sebagai sarana untuk mempromosikan Islam. Sekitar tahun 1584 M, masyarakat Sunan dari Dewan Walisongo menciptakan Wayang Golek, dan Sunan Kudus adalah Wayang Golek pertama.

Ketika pemerintahan Jawa Barat di bawah pemerintahan Mataram, pada masa pemerintahan Sultan Agung (1601-1635), orang-orang yang menyukai seni Wayang menyebar lebih luas, ditambah jumlah bangsawan Sun Dan yang datang ke Mataram untuk belajar Meningkat. Bahasa Jawa dalam konteks kepentingan pemerintah, dengan popularitas Wayang Golek dan kebebasan menggunakan bahasa masing-masing, seni Wayang semakin berkembang, hampir di seluruh Jawa Barat.

Sejarah singkat Wayang Golek dan fungsinya

Dalam perjalanan sejarahnya, pertunjukan wayang golek pertama kali dibawakan oleh para bangsawan. Apalagi peran penguasa, terutama peran Bupati Jawa Barat, memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan wayang golek. Awalnya, pertunjukan wayang kulit diadakan di istana atau distrik oleh priyayi (bangsawan Sun Dan) untuk keperluan pribadi dan umum.

Fungsi wayang golek sangat tergantung dari permintaan, terutama para bangsawan saat itu. Pertunjukan ini untuk tujuan ritual khusus atau tujuan tontonan / hiburan. Kalaupun ada pertunjukan wayang golek, jarang ditampilkan. Misalnya saja setahun sekali upacara sedekah samudra dan bumi. Pertunjukan yang masih meriah adalah pertunjukan wayang golek untuk keperluan tontonan. Biasanya diselenggarakan untuk memperingati hari jadi daerah, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Syukuran, dll.

Namun bukan berarti esensi dari nilai-nilai tuntunan yang terkandung dalam wayang golek telah hilang, padahal sebenarnya tidak demikian. Fungsi wayang golek dalam masyarakat memiliki status yang sangat terhormat. Selain sebagai sarana hiburan yang sehat juga dapat digunakan sebagai media informasi dan edukasi. Baiak terkait dengan moralitas, etika, adat istiadat atau agama. Tak kalah pentingnya, Wayang Golek juga berperan sebagai ritual penolakan bala, ritualnya adalah Ngaruat.

Sampai saat ini Wayang Golek masih digemari oleh masyarakat Jawa Barat. Ia masih sering tampil di berbagai pertemuan yang ramai, seperti khitanan, pernikahan, hari raya, malam penggalangan dana, mengumpat atau mendoakan keberkahan dan keselamatan. Media utama pementasan Wayang Golek adalah wayang golek (biasanya wayang golek) yang diukir / diukir, dilukis, serta disediakan pakaian dan karakter sesuai dengan kebutuhan dan kebutuhan.

Wayang golek yang menyerupai manusia di sana-sini juga disebut Wayang Golek, sehingga nama objek visual dan nama jenis pertunjukannya sendiri sama yaitu Wayang Golek. Bentuk / badan wayang golek wadag sebenarnya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu kepala, leher, tangan dan badan. Ketiga bagian ini dibuat terpisah dan kemudian disambungkan, sehingga bentuknya terlihat selengkap “orang”.

Leher dan kepala disambung dengan anyaman bambu, dan jari-jari kecil dari bambu berukuran sama dengan rajutan, sehingga wayang bisa di kiri dan kanan seperti manusia. Bagian bawah bambu diasah dan menembus seluruh tubuh wayang sampai ke bawah, dan terakhir berfungsi sebagai kaki untuk memasangkannya pada batang pisang agar kokoh. Mulai dari pinggang, pasang kain berbentuk seperti sarung ke bawah agar ombak besar yang menahan tangan bambu tidak terlihat dari luar.

Pisahkan tangan Anda, terutama di bagian bahu dan sendi siku. Sambungannya dihubungkan dengan kawat / tali, sehingga wayang bisa bergerak layaknya manusia. Beberapa tokoh wayang akan mendapatkan tali pundak (hiasan di bagian bawah lengan) atau gelang di tangan mereka. Begitu pula dengan berbagai bagian tubuh wayang yang diisi manik-manik, anting-anting, padong (hiasan belakang), kelenjar, dll. Adapun bentuk tubuh, ekspresi wajah, pakaian, dan dekorasi harus disesuaikan dengan peran dan posisi tokoh wayang yang terlibat.

  1. Angklung Jawa Barat

Siapa yang tidak mengenal alat musik yang satu ini? Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Negara Sunda, Provinsi Jawa Barat yang terbuat dari beberapa pipa bambu dengan ukuran yang berbeda-beda. Kata “angklung” sendiri berasal dari dua kata Matahari, yaitu “angkleung-angkleung” (artinya mengambang) dan “klung” (artinya bunyi alat musik). Oleh karena itu, “Angklung” mengacu pada suara yang dihasilkan dengan cara mengangkat atau mengapung.

Cara memainkan angklung adalah dengan memegang bagian atas dengan satu tangan dan bagian bawah dengan tangan lainnya, lalu perlahan-lahan mengocok angklung tersebut sehingga muncul bunyi sesuai dengan nada masing-masing angklung. Sejak November 2010, alat musik ini telah diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai mahakarya warisan budaya lisan dan takbenda manusia.

Pada abad ke-12 hingga ke-16, ada Kerajaan Da di pulau-pulau tersebut. Asal usul angklung diyakini lahir pada masa itu. Masyarakat Kerajaan Sunda saat itu percaya bahwa bermain Angron akan menghibur dan menyenangkan Nyai Sri Pohaci yang dianggap sebagai dewi kesuburan.

Konon Nyai Sri Pohaci berasal dari sebutir telur yang ada di air mata Dewa Naga Anta yang tinggal bersama para dewa. Setelah Nyai Sri Pohaci wafat, Dewa Guru meminta agar jenazah Nyai Sri Pohaci dikuburkan di dunia yang dihuni manusia, dunia tengah. Karena keaslian Nyai Sri Pohaci yang murni sepanjang hidupnya, banyak tanaman yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Dan tumbuh dari kuburnya.

Nasi itu berasal dari mata Nyai Sri Pohaci. Mata kanannya menjadi nasi putih, dan mata kirinya menjadi nasi merah. Demikian pula tanaman bambu juga sangat penting dalam budaya Sun Dan. Bambu yang disebut bambu aur berasal dari paha kanan Nyai Sri Pohaci. Dan paha kirinya menjadi tali bambu.

Baca Juga: Peranan Seorang Pemuda Dalam Pembangunan Bangsa

Bagian tubuhnya yang lain juga menjadi tanaman yang juga bermanfaat bagi masyarakat Dan, seperti kelapa dan palem. Oleh karena itu, Nyai Sri Pohaci (Nyai Sri Pohaci) kemudian menjadi dewi yang disembah dalam budaya Sun Dan. Sesajen Nyai Sri Pohaci biasanya diiringi dengan tetabuhan yang terbuat dari batang bambu sederhana. Dari situlah lahirlah struktur alat musik bambu dan menjadi cikal bakal kebangkitan Anglong.

Nyai Sri Pohaci diyakini akan dihibur oleh alunan musik angklung yang akan menyuburkan tanah, sehingga padi yang dibudidayakan akan menghasilkan hasil yang berlimpah. Karenanya, angklung selalu mengiringi upacara padi di awal musim tanam padi dan menghadirkan perayaan panen bagi Nyai Sri Pohaci.

Dengan perkembangan zaman, angklung saat ini tidak hanya ditampilkan dalam upacara adat saja, tetapi juga dalam berbagai kegiatan musik, sebagai alat musik tambahan telah menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan luar negeri. Sekitar abadd 20 an, thai mengatakan bahwa angkluung merupakan tugas budaya sebagai thai dan indo. Angklung bahkan dapat ditemukan di The Evergreen State College di American University.

Di Indonesia sendiri, angklung diawetkan oleh salah satu senimannya yaitu Udjo Ngalagena yang membangun Saung Angklung Udjo di Bandung. Kini, saung digunakan untuk pengiring sejarah, dan para penonton dapat meneliti pembuatan angkluung serta menyaksikan aksi panggung angklung yang dilakukan setiap minggunya.

Guna meningkatkan perlindungan alat musik Angklung, pemerintah juga menetapkan Angklung sebagai salah satu mata pelajaran kesenian di beberapa sekolah di Jawa Barat. Tak cuma itu, Badan pusat membuat sketsa alat bermusik Angola pada koin monimal seribu guna remaja jaman sekarang tahu bahwa negeri ini punya alat musik yang membanggakan.

  1. Kesenian Degung

Seni degong merupakan bagian dari adat istiadat masyarakat Sun Dan. Biasanya kesenian ini ditampilkan dalam perayaan-perayaan masyarakat setempat. Kesenian ini digunakan sebagai musik pengiring atau musik pengantar. Degong merupakan gabungan dari alat musik khas Jawa Barat. Yaitu Gendang, Gong, Kempul, Saron, Bonan, Kecapi, Suling, Rebab, dll.

Untuk memainkan Degung, biasanya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan ketegangan yang unik. Penyanyi itu biasanya seorang wanita bernama Xinden.

  1. Rampak Gendang

Kesenian Jawa Barat ini merupakan permainan dimana kendang ditabuh bersama dengan menggunakan irama tertentu dan menggunakan cara tertentu.

Biasanya permainan ini dimainkan oleh lebih dari empat ahli drum. Rampak Gendang juga sering dipamerkan di pesta atau upacara.

  1. Kesenian Rengkong

Rengkong adalah kesenian Jawa Barat yang sudah ada sejak nenek moyang kita. Jenis seni ini selalu diturunkan dari tahun ke tahun. Awalnya kesenian ini muncul di Kabupaten Cianjur pada tahun 1964 dan dipromosikan oleh H. Sopjan.

Bentuk seni ini berasal dari cara orang Sun Dan sebelumnya menanam padi hingga panen.

  1. Kesenian Kuda Renggong

Kuda Renggo atau biasa dikenal dengan Kuda Depok adalah kesenian Helaran yang terdapat di daerah Sumedang, Majalengka dan Karawang.

Metode tampilan adalah menghias dengan mendekorasi seekor kuda atau beberapa ekor kuda. Kemudian, letakkan budak sunat di atas punggung kuda. Budak didekorasi seperti raja atau ksatria. Anda juga bisa meniru pakaian Dalem Baheula, memakai bendo, takwa, kain dan sandal.

  1. Kecapi suling Jawa Barat

Seni Jawa Barat menggabungkan ketegangan suling dan seruling. Iramanya sangat merdu, biasanya diiringi oleh mamaos Sunda (tembang). Lagu atau lagu ini juga dinyanyikan oleh orang-orang berdosa.

  1. Sintren

Kata Sintren berasal dari dua kata, yaitu “Sinyo” dan “Trennen”. Sinyo berarti “pemuda” dan Trennen berarti “pelatihan”. Oleh karena itu, Sintren mengacu pada pemuda Indramayu yang bergerak di bidang kreasi seni.

Metode pemutarannya persis sama dengan pertunjukan sulap. Seorang penari wanita dengan pakaian sehari-hari dimasukkan ke dalam kandang sebesar kandang ayam.

Kemudian, masukkan baju tari tersebut ke dalam sangkar. Setelah beberapa lama, kostum penari diubah menjadi kostum tari khusus.

  1. Blantek

Blantek dibawakan oleh banyak penari pria dan wanita dengan dialog yang menarik. Atraksi para pemainnya penuh dengan seni bela diri dan pertunjukan komedi.

Seiring berjalannya waktu, kesenian Sunda dari Jawa Barat ini banyak dipengaruhi oleh Pop dan Dangdut. Input musik semacam ini tidak hanya muncul dalam bentuk lagu, tetapi juga dalam bentuk alat musik.

Hal yang sama juga terjadi pada tari Jaipong. Cerita yang sering muncul adalah Prabu Zulkarnaen dan Ngarah Barni.

Instrumen yang sering digunakan adalah Rebana (berduri, katek dan kebuk), Kendang, Jihan / Rebab, Kecrek dan Gong. Gabungkan instrumen diatonis seperti gitar melodi, bass, dan keyboard.